
Ini adalah narasi tentang Jakarta dimana berdiam orang Betawi sebagai mukimin awal. Narasi mempertanyakan seberapa jauh kemampuan dan daya pikul sebuah kota, dan seberapa kuat daya tahan sistem nilai penduduk aslinya.
Ketika Nabi Ibrahim membangun Baitullah, dibantu puteranya Ismail yang kelak menjadi Nabi, diperkirakan terjadi tahun 2300/2100 SM. Baitullah di lembah Bekka mendorong munculnya kota Makkah. Penduduk belum seberapa, ada penduduk bernama Lata yang merupakan penumpang bakhtera Nuh, ada Idris, dan Zulkifli yang kemudian menjadi Nabi juga. Beserta keluarganya, dan orang-orang lain yang tidak disebut kitab Al Qur’an dan riwayat hadist, in total sekitar 100 orang saja. Mereka membentuk populasi generasi pertama Makkah. Populasi bertambah ketika suku Jurhum merebut kendali Makkah sedudah zaman Nabi Ismail, Idris, dan Zulkifli. Makkah tetap eksis hingga sekarang dan melintas kurun waktu lebih dari 4000 tahun. Tentu, ini kota suci.
Lalu bagaimana dengan kota-kota lama Chatal Huyuk, Turki, Ain Gazal, Yordania, Memphis, Thebes, Egypt, Babylon, Babylonia, Pompei, dan Romawi. Lenyap, melainkan puing dan artefak saja.
Ada sejumlah kota di dunia yang tua, kemudian mati, dan ada juga kota-kota yang tua dan letih, tidak mati dan tidak hidup. Jakarta cukup tua jika diukur dari laporan Bujangga Manik dalam syairnya pada abad XV. Setidaknya Jakarta telah berumur lebih dari 600 tahun. Kapan matinya Jakarta? Jakarta tetap hidup karena masih diminati, tetapi juga dapat mati karena besarnya beban yang tidak dapat lagi diwadahi raga Jakarta. Jakarta adalah kota tua yang letih yang diminumkan vitamin dan dipersolek.
Narasi ini mengajak kita berpikir dan berbuat untuk menyelamatkan kota tua Jakarta, kota yang kita cintai bersama.
Tetapi siapa mau memelihara Jakarta, tentu pemerintah provinsi, tetapi cukupkah itu? Bagaimana dengan tanggungjawab warga, apakah mereka cuma menyusu dari Emak Bumi Jakarta? Orang Betawi sebagai penduduk asli suka ngegerendeng, menggerutu, tentang keadaan kota Jakarta, dan ini ada dasarnya, mereka pemukim awal kota Jakarta. Orang Betawi mencintai Jakarta, karena per definisi etnik tentu harus mempunyai teritori. Mereka mengikuti riwayat pertumbuhan Emak Buminya.
Persoalan kita sederhana saja, bagamana menjadikan penduduk Jakarta yang pendatang itu sebagai orang Jakarta, orang yang mencintai kota tua ini. Sehingga tanpa penyekat antropologi pendatang dan orang asli, marilah semua bertanggungjawab akan nasib Emak Bumi kita.
Ada konsep pemekaran kota Jakarta, kota Depok, kota dan kabupaten Tangerang dan Bekasi ditambah beberapa kecamatan di Bogor masuk Jakarta secara administratif. Tetapi ini bukan perkara mudah karena ada sejumlah kendala harus diatasi antaranya kendala politik. Jakarta tidak mengenal Daerah Tingkat II dengan perangkat kepala daerah yang dipilih lewat pilkada dan lembaga legislatif daerahnya. Jakarta adalah propinsi dengan lima wilayah kota tanpa lembaga legislatif dan satu kabupaten, Kepulauan Seribu, yang juga tanpa lembaga legislatif daerah.
What now my love, kata sebuah judul lagu pop awal tahun 1970-an, rubah peraturan perundangan tentang Jakarta, itu satu opsi. Opsi lain adalah dengan constrain kewilayahan yang ada membangun Jakarta secara berencana, dan secara serentak membangun daerah-daerah lain darimana kantong urbanis itu berasal.
Ini sama sekali menjadi tidak gampang karena secara Nasional kita terus menerus didera kesulitan ekonomi. Dan kita belum mampu melakukan revitalisasi ekonomi.
Dan fungsi narasi adalah membantu mengidentifikasi persoalan yang dihadapi Jakarta seraya mencoba menyentuh nurani warganya agar mencintai Emak Bumi Jakarta.
Untuk tahap pertama, ini dulu yang dapat kita lakukan seraya menunggu-nunggu hari baik bulan baik ketika ekonomi Indonesia bangkit. Tapi, gimana ya kalau ekonomi Indonesia tidak bangkit-bangkit? Kata orang Betawi itu mungkin sudah jadi irodat Emak Bumi Jakarta.
Pohon yang paling tinggi yang terdahulu menerima terpaan angin, kata pepatah. Kalau ekonomi indonesia ambruk, amit-amit deh, tentu Jakarta lebih dahulu yang menerima dampak keambrukan itu. Barangkali dapat ditempuh jalan antisipasi dengan menghentikan arus migrasi, dan sejatinya sudah ditempuh, tapi tidaklah dapat dikatakan berhasil. Ini namanya sial dangkalan, sial sekujurnya. Dalam pandangan Islam ini sikap thathayyur, sesal tak sudah terhadap nasib, yang menurut Syekh Muhammad Attamimi dalam Kitab Tauhid (Kantor Atase Agama Kedubes Saudi Arabia, 2003) cenderung diharamkan.
Kita tak boleh berhenti berpikir, mungkin itu menjadi pengobat si tawar si dingin. Dan narasi mengambil sebagian ruang berpikir Anda.
Ketika Nabi Ibrahim membangun Baitullah, dibantu puteranya Ismail yang kelak menjadi Nabi, diperkirakan terjadi tahun 2300/2100 SM. Baitullah di lembah Bekka mendorong munculnya kota Makkah. Penduduk belum seberapa, ada penduduk bernama Lata yang merupakan penumpang bakhtera Nuh, ada Idris, dan Zulkifli yang kemudian menjadi Nabi juga. Beserta keluarganya, dan orang-orang lain yang tidak disebut kitab Al Qur’an dan riwayat hadist, in total sekitar 100 orang saja. Mereka membentuk populasi generasi pertama Makkah. Populasi bertambah ketika suku Jurhum merebut kendali Makkah sedudah zaman Nabi Ismail, Idris, dan Zulkifli. Makkah tetap eksis hingga sekarang dan melintas kurun waktu lebih dari 4000 tahun. Tentu, ini kota suci.
Lalu bagaimana dengan kota-kota lama Chatal Huyuk, Turki, Ain Gazal, Yordania, Memphis, Thebes, Egypt, Babylon, Babylonia, Pompei, dan Romawi. Lenyap, melainkan puing dan artefak saja.
Ada sejumlah kota di dunia yang tua, kemudian mati, dan ada juga kota-kota yang tua dan letih, tidak mati dan tidak hidup. Jakarta cukup tua jika diukur dari laporan Bujangga Manik dalam syairnya pada abad XV. Setidaknya Jakarta telah berumur lebih dari 600 tahun. Kapan matinya Jakarta? Jakarta tetap hidup karena masih diminati, tetapi juga dapat mati karena besarnya beban yang tidak dapat lagi diwadahi raga Jakarta. Jakarta adalah kota tua yang letih yang diminumkan vitamin dan dipersolek.
Narasi ini mengajak kita berpikir dan berbuat untuk menyelamatkan kota tua Jakarta, kota yang kita cintai bersama.
Tetapi siapa mau memelihara Jakarta, tentu pemerintah provinsi, tetapi cukupkah itu? Bagaimana dengan tanggungjawab warga, apakah mereka cuma menyusu dari Emak Bumi Jakarta? Orang Betawi sebagai penduduk asli suka ngegerendeng, menggerutu, tentang keadaan kota Jakarta, dan ini ada dasarnya, mereka pemukim awal kota Jakarta. Orang Betawi mencintai Jakarta, karena per definisi etnik tentu harus mempunyai teritori. Mereka mengikuti riwayat pertumbuhan Emak Buminya.
Persoalan kita sederhana saja, bagamana menjadikan penduduk Jakarta yang pendatang itu sebagai orang Jakarta, orang yang mencintai kota tua ini. Sehingga tanpa penyekat antropologi pendatang dan orang asli, marilah semua bertanggungjawab akan nasib Emak Bumi kita.
Ada konsep pemekaran kota Jakarta, kota Depok, kota dan kabupaten Tangerang dan Bekasi ditambah beberapa kecamatan di Bogor masuk Jakarta secara administratif. Tetapi ini bukan perkara mudah karena ada sejumlah kendala harus diatasi antaranya kendala politik. Jakarta tidak mengenal Daerah Tingkat II dengan perangkat kepala daerah yang dipilih lewat pilkada dan lembaga legislatif daerahnya. Jakarta adalah propinsi dengan lima wilayah kota tanpa lembaga legislatif dan satu kabupaten, Kepulauan Seribu, yang juga tanpa lembaga legislatif daerah.
What now my love, kata sebuah judul lagu pop awal tahun 1970-an, rubah peraturan perundangan tentang Jakarta, itu satu opsi. Opsi lain adalah dengan constrain kewilayahan yang ada membangun Jakarta secara berencana, dan secara serentak membangun daerah-daerah lain darimana kantong urbanis itu berasal.
Ini sama sekali menjadi tidak gampang karena secara Nasional kita terus menerus didera kesulitan ekonomi. Dan kita belum mampu melakukan revitalisasi ekonomi.
Dan fungsi narasi adalah membantu mengidentifikasi persoalan yang dihadapi Jakarta seraya mencoba menyentuh nurani warganya agar mencintai Emak Bumi Jakarta.
Untuk tahap pertama, ini dulu yang dapat kita lakukan seraya menunggu-nunggu hari baik bulan baik ketika ekonomi Indonesia bangkit. Tapi, gimana ya kalau ekonomi Indonesia tidak bangkit-bangkit? Kata orang Betawi itu mungkin sudah jadi irodat Emak Bumi Jakarta.
Pohon yang paling tinggi yang terdahulu menerima terpaan angin, kata pepatah. Kalau ekonomi indonesia ambruk, amit-amit deh, tentu Jakarta lebih dahulu yang menerima dampak keambrukan itu. Barangkali dapat ditempuh jalan antisipasi dengan menghentikan arus migrasi, dan sejatinya sudah ditempuh, tapi tidaklah dapat dikatakan berhasil. Ini namanya sial dangkalan, sial sekujurnya. Dalam pandangan Islam ini sikap thathayyur, sesal tak sudah terhadap nasib, yang menurut Syekh Muhammad Attamimi dalam Kitab Tauhid (Kantor Atase Agama Kedubes Saudi Arabia, 2003) cenderung diharamkan.
Kita tak boleh berhenti berpikir, mungkin itu menjadi pengobat si tawar si dingin. Dan narasi mengambil sebagian ruang berpikir Anda.
